Halaman

Rabu, 12 Oktober 2011

Teknologi Pembelajaran Konstruktivistik


1.  Pengetahuan dikembangkan melalui negosiasi sosial 
Lingkungan sosial adalah sesuatu yang amat penting bagi perkembangan pemahaman.kita, demikian juga dalam perkembangan proposisi-proposisi yang kita namakan pengetahuan.Pertama orang lain adalah merupakan mekanisme untuk mentes pemehaman-pemahaman kita. Orang lain adalah sumber terbesar  dari pandangan alternatif untuk menentang pandangan kita  sebagai sumber kebingungan yang mendorong kita untuk belajar. Kedua kita mencari proposisi-proposisi  yang cocok dengan dengan konstruksi-konstruksi pemahaman kita tentang dunia. Fakta-fakta  yang mendapat persetujuan luas atau fakta umum  belum tentu sebagai kebenaran tertinggi.Lingkungan kita adalah sumber utama yang menyediakan pandangan-pandangan alternatif dan informasi –informasi tambahan untuk mentes viabilitas dari pemahaman kita dalam membangun proposisi/pengetahuan yang cocok dengan pemahaman kita.(Cunningham, Duffy & Knuth, 1991).

Menurut Vygotky, Konstruktivis memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individu dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan melalui adaptasi intelektual dalam konteks sosial budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara individual yakni melalui proses regulasi diri secara internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individu.

Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah:
(1), mengenai fungsi bahasa dalam komunikasi sosial yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan,
(2) zona of proximal development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani si belajar dalam upayanya membangun pengetahuan,pengertian dan kompetensi.

Teori Vygotsky menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajar  dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajar.Fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya.  Vygotsky meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat siswa beraktivitas  menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka.

Contoh : Ketika ada fakta bahwa bumi itu datar  dan matahari mengelilingi bumi , ini adalah kesepakatan umum bahwa konsep atu prinsip  yang muncul adalah penafsiran terbaik bagi dunia kita. Konsep ini tidak mencerminkan sebagai kebenaran tertinggi tetapi merupakan penfsiran yang paling dapat diterima  terhadap dunia pengalaman kita.

2. Viabilitas pengetahuan  

Piaget berpendapat,  adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses yang dialami individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru. pengertian orang itu menjadi berkembang.

Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai.Pengalaman yang baru itu biasa, jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidak seimbangan (disequilibrium). Akibat ketidak seimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru. Kebingungan si belajar  sebagai stimulus dan organizer karena akan mensugestikan tujuan intelektual maupun pragmatic dalam belajar.

Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidak seimbangan dan keadaan seimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi keseimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotskian disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti memberikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada individu tersebut  untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar  setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan kepada pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.


3. Perbedaan Pandangan Ajaran Behavioristik Dengan Konstruktivistik
a.    Belajar
Pandangan Behavioristik  berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses perolehan pengetahuan oleh si belajar  melalui suatu kegiatan pembelajaran yang melalui tranformasi pengetahuan dari guru kepada si belajar.
Pengetahuan yang diperoleh bersifat obyektif , pasti dan relatif tetap karena sudah melalui proses pengujian dan kesepakatan bersama

Sedangkan pandangan Konstruktivistik belajar adalah suatu suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri si bellajar  dengan faktor ekstern atau lingkungan sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.

( Jean Piaget)  menyatakan bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran si belajar melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru pikiran, sedangkan akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Amri,2010:145). Pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh si belajar, melainkan melalui tindakan . Perkembangan kognitif bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya..

Degeng( 2010) melukiskan belajar itu bagaikan air yang mengalir di sebuah sungai , yang dimaksudkan adalah bahwa belajar itu sesuatu yang alamiah, mengalir, dinamis, penuh dengan resiko dan menggairahkan..
Belajar adalah suatu proses pemaknaan pengetahuan(meaningfull) .belajar adalah adanya pemahaman .    

b.a. Pembelajaran
     Pandangan behavioristik, pembelajaran bertujuan agar si belajar mendapat pengetahuan yang sama dengan pengajar terhadap pengetahuan yang dipelajari. Pengetahuan tersebut sudah terstruktur dengan rapi . suatu pembelajaran akan dikatakan berhasil apabila si belajar dapat menambah pengetahuan atau mampu mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari. Di dalam pembelajaran diberlakukan aturan-aturan yang ketat  yang dapat membawa keberhasilan dalam pembelajaran. Sehingga ketaatan kepada aturan dipandang sebagai kunci sukses dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Pandangan Konstruktivistik ; Pembelajaran bertujuan menekankan pada penciptaan pemahaman baru  yang menuntut kreativitas si belajar dan menghasilkan produktivitas yang nyata pada konteks nyata . Pemahaman yang diciptakan atau dibangun oleh si belajar bisa berbeda-beda  sesuai dengan kemampuannya melakukan asimilasi dan akomodasi. Si belajar diperhadapkan dengan lingkungan belajar yang penuh dengan kebebasan , kebebasan merupakan unsur yang sangat esensial dalam pembelajaran sehingga  dipandang sebagai kunci keberhasilan bagi pembelajaran..

b.    Peran Guru dalam pembelajaran
Pandangan Behavioristik, Guru berperan sangat penting karena sebagai pengajar yang berusaha untuk mentransformasikan pengetahuan  kepada si belajar. Guru sebagai pengontrol  proses pembelajaran yang terus menerus menegakkan aturan –aturan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Pandangan Konstruktivistik memandang Guru sebagai fasilitator  atau nara sumber yang membantu  si belajar dalam  menciptakan lingkungan belajar yang bebas  dan kondusif, membantu si belajar untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar , sehingga si belajar dapat dengan bebas melakukan asimilasi dan akomodasi  melalui interaksi dengan lingkungan belajarnya.

c.    Peran Siswa dalam pembelajaran
Pandangan Behavioristik, siswa dipandang sebagai si belajar yang pasif  yang akan diwarisi  pengetahuan oleh pengajar , si belajar perlu dikontrol dengan diberikan aturan-aturan agar proses transformasi dapat berjalan dengan baik si belajar dapat memiliki pemahaman seperti yang dipahami oleh pengajar sehingga tujuan pengajar tercapai..

Pandangan Konstruktivistik, siswa adalah  sebagai si belajar yang aktif dan memiliki kebebasan untuk memiliki tujuan sendiri, mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan gagasan yang mereka miliki ketika berhadapan dengan lingkungan belajarnya.

4. Krtitik /Dekonstruksi Peter West Wood
a. Apakah pengetahuan tidak dapat diajarkan secara langsung kepada  siswa?
(Yates dan Yates 1990) menyatakan,  menyajikan pengetahuan secara langsung kepada siswa tidak menghalangi  proses-proses mental untuk membuat makna. Peran penting guru sebagai pengajar memberikan penjelasan yang jelas terhadap informasi baru sangat membantu dalam  memfasilitasi proses mental tersebut. Bahwa sambil belajar ada proses berpikir yang melibatkan  sumber-sumber belajar seperti buku, artikel, model, diagram, program computer, kamera dan film, dan paparan  manusia untuk mengatur dan menyajikan pengetahuan baru  untuk diasimilasikan kemudian  direkonstruksi dalam pikiran siswa.  
Meyer( 20040) menunjukkan bahwa banyak konstruktivis menekankan pentingnya aktivitas siswa dalam memperoleh pengetahuan  secara pribadi , mengabaikan  peran penting dari aktivitas kognitif.  Pengajaran langsung sangat mungkin untuk merangsang aktivitas kognitif dengan berpikir verbal dan visual, tidak perlu dengan aktivitas fisik. Dengan kata lain penjelasan langsung dapat merangsang pemikiran. siswa
Wragg dan Brown (1993) "giving understanding to another" bahwa penjelasan yang jelas kepada kelompok siswa  membantu  meminimalkan perbedaan dalam pengetahuan mereka tentang suatu topik tertentu, dengan demikian akan mengurangi  kesalahpahaman .
b. Apakah metode berdasarkan prinsip-prinsip konstruktivis cocok untuk semua bidang belajar?
Walter Dick (1992), beberapa konstruktivis berpendapat teori ini berlaku untuk semua domain belajar manusia. Walter Dickmemberikan  pertanyaan yang logis : Apa batas-batas teori? dan, Apakah benar sebuah teori, atau strategi pembelajaran yang merupakan jenis hasil belajar tertentu? Seorang siswa secara aktif membutuhkan untuk menemukan jalan kepada pengetahuan dasar dan belajar numerasi  yang memperhadapkan siswa dengan tugas-tugas yang sulit . Pembelajaran  langsung yang baik akan lebih memungkinkan siswa untuk mengembangkan basis pengetahuan yang lebih subtansial yang akan meningkatkan  proses berpikir siswa  dalam situasi berikutnya baik di dalam dan di luar sekolah.
Jonassen( 1992) menjelaskan tiga tahap model pembelajaran akuisisi pengetahuan:
Tahap 1 :  initial knowledge acquisition( akuisisi pengetahuan awal)
Tahap 2 : Advance knowledge (pengetahuan lanjut)
Tingkat 3 : Expertise ( ahli )
Ini mendukung pandangan bahwa pada tahap akuisisi pengetahuan awal,   lebih baik dilayani dengan pembelajaran  langsung sedangkan tahap  akuisisi pengetahuan lanjut sampai  ke tahap  keahlian dapat menggunakan  pendekatan yang lebih konstruktivis.
Contoh : Mengajarkan membaca dan menulis permulaan akan lebih efektif  jika dilakukan  dengan pengajaran langsung.
c. Apakah  pendekatan konstruktivis ideal bagi setiap pembelajar ?
Mc Cormick (1995) mengamati  beberapa siswa,  untuk mengalami penemuan(discovery) yang tidak terstruktur, dimana siswa kurang  independen, sangat tidak  efisien untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan. Mereka membutuhkan waktu  lebih lama dari yang dibutuhkan untuk mengajarkan pengetahuan yang sama  dibandingkan menggunakan jika dengan penjelasan langsung.
Swanson(  2000)  Siswa,dengan kesulitan belajar,  siswa kurang termotivasi , dan siswa dari latar belakang yang kurang beruntung,  tampaknya akan lebih cepat bila diajarkan dengan metode eksplisit  dalam memperoleh keterampilan , dasar –dasar teori  , melibatkan banyak model dan praktek  yang dibimbing langsung oleh guru.
Delpit (1988) mengutip seorang mahasiswa yang mengatakan "Saya tidak merasa ia/guru sedang mengajar kita sesuatu .Dia mengoreksi  setiap tugas dan kita belajar darinya. dia tidak mengajari kami sesuatu” “Vaughn ( 1995) melaporkan hampir  semua siswa masih sangat membutuhkan pengarahan langsung dari guru, terutama ketika berhadapan dengan mata pelajaran yang sulit. Hal ini jelas bahwa dengan menggunakan pendekatan berbasis konstruktivis tidak menjamin bahwa semua siswa dalam kelas akan mengkonstruk  pengetahuan yang identik tentang topik tertentu. Seorang pembelajar dapat membuat kesalahpahaman konsep atau mempunyai konsepsi tidak akurat.


d.Apakah pendekatan konstruktivis kompatibel dengan pengolahan kognitif manusia?
     Tumbuhnya penelitian tentang "teori beban kognitif" ( Cognitive Load Theory) yang meragukan tentang keberhasilan dari penemuan-jenis kegiatan terstruktur dan terfokus. CLT  sangat berkaitan dengan tugas-tugas di mana peserta didik sering kewalahan oleh jumlah dan keragaman informasi yang harus diproses dan diingat secara bersamaan.  Maka dengan mudah bisa terjadi penemuan atau masalah – dalam situasi pembelajaran berbasis.
 (Paas et al., 2004), menyarankan bahwa kegiatan belajar dengan bimbingan minimal dari guru maka pembelajaran  menjadi  kurang efektif karena mereka memberikan tuntutan yang tidak masuk akal pada kemampuan peserta didik dalam pengolahan informasi, khususnya pada memori kerja.


     (Kirschner et al. 2006 ). Paas et al. (2004, p. 1) menjelaskan masalah ini:
.. . penurunan kinerja di kedua ekstrem beban kognitif  yang terlalu  rendah (underload) atau beban terlalu tinggi (overload),menjadikan  pelajar dapat berhenti belajar.
Dengan mengacu pada overload, Kirschner et al. (2006) mengamati bahwa, peserta didik dapat terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah untuk waktu yang lama dan akibatnya hampir tidak ada belajar '[penekanan ditambahkan]. Sementara semua kegiatan belajar dan tugas memang melibatkan beberapa derajat beban kognitif intrinsik, seorang ahli di bidang ini merekomendasikan bahwa materi pengajaran dan metode harus mencoba untuk meminimalkan beban ini dengan memecah tugas menjadi langkah-langkah yang dikelola dan memberikan dukungan yang memadai untuk belajar.
Kritik terhadap  CLT bahwa sementara teori overload kognitif, dapat mempertahankan  metode penemuan(discovery) yang benar-benar terarah dan eksploratif, tidak berlaku untuk pendekatan yang berbasis masalah yang digunakan saat ini, karena sebenarnya guru hanya memberikan yang diperlukan berupa  dukungan dan bimbingan (perancah) agar mereka terlibat dalam kegiatan belajar (Schmidt et al, 2007.).

5.    Prinsip-Prinsip Konstruktivistik yang Melandasi Project Based Learning( PBL )
Anik Gufron(2010) Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) adalah pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai basis materi pembelajaran bagi siswa, sehingga dapat berpikir kritis, dan terampil memecahkan berbagai masalah/proyek untuk memperoleh konsep atau pengetahuan yang esensial. PBL menekankan pada kegiatan perumusan kegiatan, merancang, melaksanakan pekerjaan, dan mengevaluasi hasil kerja.
Prinsip-Prinsip Konstruktivistik yang melandasi PBL adalah sebagai berikut  :

a.        Letakkan /kaitkan kegiatan belajar ke dalam tugas –tugas atau masalah yang lebih besar.
PBL adalah cara yang konstruktif dalam pembelajaran menggunakan permasalahan sebagai stimulus dan berfokus kepada aktivitas pelajar. [Boud & Felleti, 1991]. PBL adalah metode pengajaran sistematik yang mengikutsertakan pelajar ke dalam pembelajaran pengetahuan dan keahlian yang kompleks, pertanyaan authentic dan perancangan produk dan tugas [University of Nottingham, 2003]. Si belajar benar-benar memahami dan menrima kegiatan belajar khusus dalam relasinya dengan tugas yang kompleks.

b.        Dukung si belajar dalam mengembangkan kepemilikan atas keseluruhan tugas atau masalah.
Pembelajaran Berbasis Proyek dibangun berdasarkan ide-ide pebelajar sebagai bentuk alternatif pemecahan masalah nyata tertentu, dan pebelajar mengalami proses belajar pemecahan masalah itu secara langsung. Si belajar dilibatkan dalam proyek tertentu maka diasumsikan si belajar akan memahami dan menyadari relevansi serta nilai dari masalah.
c.         Desainlah tugas yang otentik
Dalam PBL siwa dihadapkan pada masalah dan mencoba untuk menyelesaikan dengan bekal pengetahuan yang mereka miliki. Mengidentifikasi apa yang harus dipelajari untuk memahami lebih baik permasalahan dan bagaimana cara memecahkannya. Mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, laporan, informasi online atau bertanya pada pakar yang sesuai dengan bidangnya. Melalui cara ini, belajar dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup tiap individu.  Setelah mendapatkan informasi, mereka kembali pada masalah dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari untuk memahami dan menyelesaikannya. Di akhir proses, siswa melakukan penilaian terhadap dirinya dan memberi kritik bagi teman-temannya.

d.        Desainlah tugas-tugas dan lingkungan belajar untuk merefleksikan kompleksitas lingkungan.
Dalam PBL kita berupaya mendukung si belajar bekerja dalam lingkungan yang kompleks. Kegiatan pelajar difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya. Aktivitas ini mengintegrasikan tugas otentik dan menghasilkan sikap profesional.
e.         Berikan si Belajar “kepemilikan “ atas proses yang digunakan  untuk membangun solusi. 
Dalam PBL, si belajar   diharapkan  akan  merasa “memiliki”  atas  proyek  tersebut.  Perencanaan  berisi  tentang  aturan  main, pemilihan  aktivitas  yang  dapat  mendukung  dalam  menjawab  pertanyaan esensial,  dengan  cara  mengintegrasikan  berbagai  subjek  yang  mungkin, serta  mengetahui  alat  dan  bahan  yang  dapat  diakses  untuk  membantu penyelesaian proyek (The George Lucas Educational Foundation : 2005).


f.         Desain lingkungan belajar  yang mendukung dan menantang berpikir si belajar.
Dalam PBL, Proses belajar dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah, hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah yang akan dihadapi.

g.        Mendorong pengetesan ide-ide melawan pandangan- pandangan alternatif dan konteks-konteks alternatif.
Dalam PBL si belajar menggunakan sumber-sumber belajar dn materi pelajaran sebagai sumber informasi yang dipergunakan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Nara sumber dan fasilitator membantu si belajar  untuk melakukan inkuiri melalui proyek yang dikerjakannya. Pembelajaran Berbais Proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.

h.               Sediakan kesempatan dan dukungan bagi terjadinya refleksi baik terhadap konten  yang dipelajari maupun terhadap proses belajar yang dijalani.
PBL meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah. Banyak sumber yang mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.

Daftar Pustaka :

1.       http://www.scribd.com/doc/45793167/Teori-Belajar-Konstruktivis,  diakses tanggal  9 Oktober 2011 ( Peter Westwood What Teachers Need to Know About Teaching Methods)

2.       Degeng , Nyoman S (2010) Paradigma Baru Pembelajaran Di Perguruan Tinggi: Dari Behavioristik ke Konstruktivistik, Bahan Seminar Pengembangan Model-Model Pembelajaran Inovatif, UKSW Salatiga.


3.       Gufron,Anik(2010) Model Pembelajaran Inovatif, Bahan Seminar Pengembagan Model-Model Pembelajaran Inovatif, UKSW, Salatiga

4.       Kamdi,Waras(2008) Pembelajaran Berbasis Proyek, Materi Pelatihan Guru SMP SMA Tarakan

5.       Savery and Duffy(996) Problem Based Learning: An Instructional Model And Its Constructivist Framework;Brent G. Wilson( ed) Constructivist Learning Environments.Case Studies in Instructional Design;New Jersey : Educational Technology Publications)

6.       Amri,Sofan & Akhmadi,Iif Khoiru ( 2010) Konstruksi Pengembangan Pembelajaran Pengaruhnya Terhadap Praktik Kurikulum, PT Pustaka Raya, Jakarta

Jumat, 07 Oktober 2011

Ringkasan Buku Filsafat 2


ILMU PENGETAHUAN DAN TANGGUNG JAWAB KITA
Karangan : Prof.Dr.A.G.M. van Melsen
Diterjemahkan oleh Dr. K .Bertens

Bab I
ILMU PENGETAHUAN DAN PERKEMBANGANNYA

1.    Dari banyak menjadi Satu
            Salah satu kesulitan terbesar adalah terjadinya keanekaragaman ilmu pengetahuan itu.. Orang berkesan bahwa ilmu pengetahuan telah berkembang dari keadaan bersatu menjadi banyak. Ilmu pengetahuan telah terbentuk dengan timbulnya pandangan bahwa memang mungkinkan menemukan kesatuan dalam banyak gejala yang berbeda-beda.. Dalam rangka pengertian itulah ilmu pengetahuan timbul sebagai usaha untuk secara metodis dan sistematis mencari asas-asas yang mengizinkan untuk memahami kesatuan dan perkaitan satu sama lain antara banyak gejala itu.
            Sejarah imu pengetahuan di kemudian hari memperlihatkan tendensi untuk mencari asas-asas yang menjamin kesatuan.  Banyak perkembangan penting yaitu dengan menyusun teori-teori universal  yang menggabungkan apa yang sebelumnya dianggap wilayah-wilayah tersendiri.

2.    Banyaknya ilmu
            Adanya banyak ilmu sebetulnya tidak perlu mengganggu. Sekurang-kurangnya tidak perlu bahwa adanya banyak ilmu bertentangan dengan tendensi ilmu pengetahuan yang fundamental, yaitu mencari kesatuan.
. Ilmu-ilmu berbeda  satu sama lain karena metode-metode sangat berlainan untuk menyelidiki , melukiskan, dan mengerti ralitas Setiap ilmu mempunyai caranya masing-masing untuk melakukan obsevasi dan eksperimen
. Setiap ilmu mempunyai tipe hipotesa dan tipe teori masing-masing. Dan mempunyai bahasa deskriptif dan eksplanatoris masing-masing..

3.    Hubungan antar ilmu pengatahuan dan masyarakat: dulu dan sekarang
            Dahulu ilmu pengetahuan bertujuan memperingatkan manusia bahwa selain makhluk alamiah – makhluk yang tersimpul dalam tata susunan alam – ia masih merupakan sesuatu yang lain, yaitu makhluk yang mengetahui tentang dirinya dan dengan demikian juga tentang perbedaannya dengan alam. Ilmu pengetahuan bermaksud mendalami pengertian tentang diri manusia dan alam itu, supaya secara rohani manusia dapat sampai pada inti dirinya.
            Ilmu pengetahuan sekarang ini melayani kehidupan  sehari-hari meliputi segala aspeknya .Kegiatan ilmiah didasarka pada dua keykinan  berikut ini :
a. segala sesuatu dalam realitas dapat diselidiki secara ilmiah
b. semua aspek realitas membutuhkan juga penyelidikan

4.    Apa sebabnya kegunaan ilmu pengetahuan ditemukan
            Untuk memperoleh ilmu pengetahuan maupun untuk menguji pengetahuan sangat diperlukan eksperimen,. karena eksperimen-eksperimen yang semakin kompleks itu bukan saja diperlukan untuk tetap menguji pengetahuan baru, melainkan juga untuk tetap menguji pengetahuan yang sudah diperoleh dulu dan sudah disusun.
            Perkembangan ilmu pengetahuan dari yang bersifat semata-mata rasional menjadi ersifa rasional eksperimental  yang telah mengakibatkan ditemukannya kegunaan ilmu pengetahuan.Ilmu pengetahuan segera mempengaruhi segala sektor kemasyarakatan.

5.    Sifat progresif ilmu pengetahuan dewasa ini
            Saat ini ilmu pengetahuan telah menunjukkan sifat progresif yaitu pengetahuan kita semakin tepat dan semakin mendalam, diduga adanya potensi-potensi baru yang selalu harus diuji dulu.

6.    Tempat “prima principia” dalam filsafat ilmu pengetahuan yang klasik
            Ilmu pengetahuan  telah memperlihatkan sifat progresif . Ilmu alam yang pertama kali menunjukkan dan  menyingkap aspek ini pada abad 17.
Jika dalam pandangan klasik dikatakan bahwa ilmu pengetahuan sudah rampung pada prinsipnya, maka yang harus ditekankan adalah pada prinsipnya. Menurut pendapat  Yunani dan abad pertengahan, prima principia, prinsip-prinsip fundamental dari ilmu pengetahuan terbuka bagi rasio. Kebenaran dari prisip-prinsip itu harus dipastikan dulu, sebelum ilmu pengetahuan dimulai. Maka itu mempraktekkan ilmu pengetahuan adalah  menarik konsekuensi-konsekuensi logis dari prima principia ini.

7.    Kedudukan “prima principia” yang telah berubah
            Aksioma-aksioma teori ilmu alam atau prima principia (prinsip-prinsip pertama) yang digunakan untuk mengadakan deduksi, sekarang bukan merupakan anggapan-anggapan yang sudah tersedia bila ilmu alam mulai.
            Ada perbedaan radikal antara pandangan Aritotelian dan pandangan modern. Yaitu bahwa prinsip-prinsip dasar itu sekali-sekali dapat ditentukan dengan hanya memandang realitas secara rasional. Prinsip-prinsip itu harus ditemukan menurut suatu prosedur yang sangat kompleks dimana bekerja sama observasi, induksi, konstruksi teoritis, deduksi logis, dan pengujian eksperimental. Dan dengan cara itu pun masih tetap ada kemungkinan untuk revisi terus-menerus.

8.    Alasan mengapa timbulnya ilmu alam begitu lambat
            Bila kita menginsafi betapa kompleksnya prosedur logis dalam membentuk teori-teori ilmu alam, maka kita mengerti juga mengapa proses timbulnya tipe ilmu pengetahuan ini makan waktu begitu lama. Alasannya karena teori ilmu alam diperlukan terlebih dahulu untuk dapat memperoleh pandangan tepat tentang gejala-gejala dan mengadakan eksperimen-eksperimen, dengan cara demikian rupa sehingga pengetahuan diperluas. Tetapi teori itu sendiri harus bertumpu pada data-data eksperimental.
           
9.    Pembagian klasik dari ilmu pengetahuan
            Aristoteles membagi ilmu pengetahuan dalam ilmu-ilmu teoritis yang diarahkan pada pengetahuan saja dan ilmu-ilmu praktis dimana pengetahuan ditujukan pada prasis. Pembagian ilmu-ilmu praktis mengikuti sifat-sifat praksis yang bersangkutan. Etika menyangkut tindakan yang tepat, poetika menyangkut produksi yang tepat (membikin sesuatu dengan tepat) dan logika menyangkut argumentasi yang tepat.
            Ilmu-ilmu teoritis menyangkut cara memandang realitas. Ilmu alam memandang realitas menurut aspek-aspeknya yang materialdan kualitatif. Matematika atau ilmu pasti tidak memperhatikan aspek-aspek material serta kualitatif, tetapi hanya memandang aspek-aspek kuantitatif. metafisika memandang realitas menurut aspek-aspeknya yang paling umum dan fundamental, yaitu sejauh realitas itu ada.
            Seni dibadakan dari ilmu karena sifatnya kurang umum dan lebih terarah pada pengalaman mengenai benda-benad atau keterampilan-keterampilan yang tertentu.

10. Pembauran antara ilmu dan seni
            Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dapat kita saksikan terjadinya poses universalisasi di mana semakin banyak bagian realitas terjangkau oleh metode ilmiah. Proses universalisasi ini akhirnya berujung pada situasi yang serba biasa bagi kita sekarang, yaitu keyakinan yang sudah disebut sebelumnya bahwa segala sesuatu bisa menjadi menjadi obyek penelitian ilmiah.
            Juga dipandang dari segi seni, proses ini berarti menghilangnya perbedaan antara ilmu dan seni. Yang dulu merupakan ciri khas seni, yaitu bahwa pengetahuan tertuju pada perbuatan, telah berpindah juga ke pengatahuan ilmiah. Boleh dicatat lagi bahwa “scientifikasi” dari seni ini memperluas kemungkinan-kemungkinannya. Karena itu terdapat keyakinan lain lagi, yaitu bahwa bukan saja segala sesuatu dapat diselidiki secara ilmiah, melainkan juga perlu diselidiki secara ilmiah supaya dikuasai secara teknis.

11. Sebab-musabab spesialisasi
Spesialisasi berkaitan dengan tipe-tipe ilmu pengetahuan yang berbeda-beda, karena disusun atas sikap pemikiran yang berlainan. Adanya banyak teknik eksperimental  dan teoretis yang tidak mengijinkan untuk menguasai semua.
            Spesialisasi harus timbul supaya tendensi ilmu pengetahuan yang menguniversalisir serta menyatukan dapat diwujudkan dan supaya banyak gejala yang beraneka ragam dapat disintetisir.





Bab II
KEANEKARAGAMAN ILMU PENGETAHUAN

1.    Terpecahnya kesatuan
            Dengan timbulnya ilmu alam modern ,  keadaan itu berubah. Ilmu alam baru itu ternyata merupakan suatu tipe ilmu pengetahuan lai,  daripada yang dikenal orang selama itu. Tetapi mula-mula kesatuan ilmu pengetahuan dengan itu belum terancam. Keadaan itu berubah ketika ilmu-ilmu lain yang mencapai kematangannya: ilmu sejarah, ekonomi, sosiologi, psikologi, ilmu bahasa dan sebagainya, terutama ketika ilmu-ilmu ini mulai menginsafi perbedaannya dengan ilmu alam, bertambah pula metode-metodenya.

2.    Alasan keanekaragaman ilmu pengetahuan
            Ilmu-ilmu berbeda tidak terutama karena obyek material berbeda, tetapi khususnya mereka berbeda menurut obyek formal. Setiap ilmu berusaha melukiskan kenyataan dengan menggunakan konsep-konsep yang khas bagi ilmu bersangkutan dan ia mencoba mengadakan relasi-relasi antara konsep-konsep yang sejenis dan bertautan satu sama lain itu.

3.    Ilmu alam
            Ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah bahwa ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi yang langsung. Kita menggunakan istilah registrasi inderawi untuk menunjukkan bahwa data-data inderawi harus dimengerti tepat menurut penampakannya.
            Ciri ilmu alam adalah bahwa ia mengendalikan pada obyeknya suatu determinisme, sedemikian rupa sehingga suatu aksi tertentu mutlak perlu menampilkan reaksi tertentu.
Keeksakan ilmu alam  berasal dari kenyataan  bahwa dalam observasi-observasinya  secara prinsipial  membatasi diri pada kawasan di mana isi konsep dan isi observasi tetap berkaitan secara univok.



4.    Ilmu sejarah
            Ilmu yang menyangkut sejarah manusia, menyelidiki segala sesuatu sejauh berhubungan dengan tindakan manusiawi itu. Perhatian ilmu sejarah khusus diarahkan kepada perkembangan dari apa yang bersifat unik, di masa lampau maupun di masa sekarang. Sejarah meliputi semua kejadian yang pernah berlangsung sehingga tidak bisa mengadakan eksperimen-eksperimen.
            Manusia adalah pelaku aktif dalam sejarah yang turut menentukan jalannya sejarah dengan pertimbangan-pertimbangannya, tujuan-tujuannya, dan perbuatan-perbuatannya sendiri.

5.    Ilmu-ilmu manusia
            Ilmu-ilmu manusia sering disebut ilmu tingkah laku (behavioral sciences) atau ilmu-ilmu sosial. Ilmu manusia berusaha secara khusus menemukan aspek-aspek yang dapat diulangi dan dalam hal ini ia kerap kali bekerja sama dengan ilmu-ilmu alam yang tertentu.
            Karena manusia sendiri termasuk obyek ilmu manusia, maka seperti halnya juga dengan ilmu sejarah, ilmu manusia akan terbentur pada masalah obyektivitas lebih tajam daripada ilmu alam.

6.    Ilmu-ilmu non-empiris
            ilmu-ilmu non empiris  contohnya  matematika (atau ilmu pasti) dan filsafat. Kedua ilmu itu menduduki tempat yang khusus dalam pembagian ilmu pengetahuan.

7.    Matematika
            Matematika atau ilmu pasti cocok sekali untuk memperlihatkan bagaimana suatu ilmu non empiris, namun dengan caranya sendiri terikat juga dengan pengalaman inderawi. Obyek pertama bagi studi matematika adalah aspek-aspek realitas yang dapat diulangi dan dimensi-dimensi realitas yang masing-masing disebut aspek-aspek non-kontinu dan aspek-aspek kuantitatif kontinu dari realitas.
            Matematika modern bersifat lebih abstrak dan telah melepaskan diri seluruhnya dari pengalaman konkrit, maka kegunaanya untuk ilmu-ilmu lain bertambah besar. Alasannya karena matematika modern itu menyediakan bagi ilmu-ilmu lain beracam-macam struktur formal yang bukan saja struktur-struktur yang terdapat dalam pengalaman langsung.

8.    Filsafat
            Filsafat juga merupakan suatu ilmu non-empiris, meskipun berbeda dengan matematika. Tetapi di sini berlaku juga, walaupun filsafat bukan suatu ilmu empiris, tetapi filsafat tetap bertumpu pada pengalaman- pengalaman.


Bab III
ILMU-ILMU TEORITIS DAN ILMU-ILMU PRAKTIS

1.    Pendahuluan
            Biarpun perbedaan antara ilmu-ilmu teoritis dan  praktis masih tetap aktual, namun karena perkembangan ilmu pengetahuan pembedaan itu kini tidak begitu tajam. Alasannya karena banyak ilmu teoritis memerlukan eksperimen untuk tujuan langsung mereka (yaitu memperoleh pengetahuan) dan karena itu mendapat suatu segi praktis. Di satu pihak kemingkinan-kemungkinan ilmu pengetahuan bertambah besar  pula kemungkinan-kemungkinan penerapannya, sedang di lain pihak rupanya terjadi kesenjangan  semakin lebar antara problem praktis  yang perlu dicari pemecahannya.

2.    Penisbian terhadap pembedaan klasik antara ilmu-ilmu teoritis dan ilmu-ilmu praktis
            Alasan sebenarnya mengapa perbedaan antara ilmu pengetahuan teroritis  dan ilmu pengetahuan praktis begitu dinisbikan terletak dalam pengalaman bahwa penelitian ilmiah murni yang diadakan semata-mata untuk menambah pengetahuan, lambat laun menghantar kita kepada penerapan-penerapan praktis yang lebih luas dan lebih berdampak daripada penelitian yang langsung ditujukan kepada penerapan.
            Pembedaan antara ilmu pengetahuan teoritis dan ilmu pengetahuan praktis (dalam arti: ilmu pengetahuan murni dan ilmu pengetahuan terapan) tidak ditiadakan, keran perlu lagi suatu usaha terarah tersendiri untuk memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam teknologi. Penemuan ilmiah yang tertuju pada produksi  berlainan dengan penemuan ilmiah guna memperkaya pengetahuan.

3.    Perbedaan antara ilmu pengetahuan teoritis dan ilmu pengetahuan praktis menurut bentuknya sekarang ini.
            Perbedaan antara ilmu pengetahuan teoritis dengan ilmu pengetahuan praktis adalah pertama: terdapat sekelompok ilmu-ilmu teoritis yang dalam penelitiannya terpimpin oleh permasalahannya sendiri dan tidak oleh penerapan-penerapan praktis yang mungkin ada. Dipandang dari segi kebutuhan-kebutuhan praksis ilmu ini hanya “kebetulan” mempunyai relevansi.
            Kedua: sekelompok ilmu yang sengaja bertolak dari kebutuhan-kebutuhan praksis dengan maksud eksplisit mencari pemecahan bagi masalah-masalah itu. Karena realitas bersifat konkrit dan demikian juga kebutuhan-kebutuhannya, maka ilmu-ilmu praktis itu tidak akan berbeda menurut pelbagai cara pendekatan abstrak. Ilmu-ilmu praktis itu tidak sejalan dengan ilmu-ilmu teoritis yang sepadan dengannya.

4.    Ilmu-ilmu multidisipliner, interdisipliner,  dan monodisipliner
            ilmu-ilmu praktis dapat dipertentangkan dengan ilmu-ilmu teoritis sebagai ilmu-ilmu multidisipliner terhadap ilmu-ilmu monodisipliner. Istilah multidisipliner lebih sering digunakan daripada istilah interdisipliner, karena pada kenyataannya berlangsung adalah kerja sama antara disiplin-disiplin ilmu yang tetap berdiri sendiri. Istilah “interdisipliner” nampaknya lebih tepat, jika yang terlibat adalah teori-teori yang mampu memecahkan problem-problem yang fundamental dari ilmu-ilmu yang sangat berbeda.

5.    Kebertautan teori dan praksis berlaku umum
            Semua ilmu ditandai kebertautan teori dan praksis, maka untuk kebanyakan ilmu tingkah laku akan menjawab masalah ini dengan afirmatif. Baik psikologi yang lebih mempelajari tingkah laku perorangan maupun sosiologi yang menyelidi0ki tingkah laku dalam kelompok, kedua-duanya bersifat teoritis maupun praktis. Hal ini sama berlaku untuk ekonomi.Pendekatan integral multidisipliner  yang dituntut prksis untuk dapat menangani kebutuhan-kebutuhan konkrit yang mendesak  maka haruslah ada sesuatu yang mengakibatkan terjadinya integrasi. Pada kenyataannya  integrasi adalah ilmu yang paling kuat yang menentukan pertimbangan-pertimbangan teknologis dan ekonomis.

6.    Ciri-ciri yang menandai semua ilmu
Pertama: bahwa ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis koheren.
Kedua: bahwa ilmu pengetahuan harus tanpa pamrih.
Ketiga: universalitas ilmu pengetahuan.
Keempat: obyektivitas serta intersubyektivitas.
Kelima: dapat diverifikasi dan dapat dikomunikasikan.
Yang terakhir bersifat progresif dan dapat digunakan.



Bab IV
TANGGUNG JAWAB

1.    Tanggung jawab dan kausalitas
            Menjadi ilmu pengetahuan teoritis-praktis bertanggung jawab atas perubahan-perubahan sosial yang telah berlangsung dalam zaman baru. Tetapi jarang dikatakan tentang arti kata tanggung jawab ini. tanggung jawab mungkin diartikan sebagai kata searti untuk penyebab, namun demikian dengan itu suatu arti kata halus akan hilang. Bertanggung jawab atas memang menunjukkan suatu kausalitas. Tetapi isi kata “bertanggung jawab” berarti subyek yang menyebabkan dan harus menjawab.
            Ilmu pengetahuan harus bertanggung jawab terhadap perubahan-peubahan sosial, artinya ilmu pengetahuan yang menyebabkan perubahan-perubahan itu dan ilmu pengetahuan bertanggung jawab atas yang terjadi selanjutnya.

2.    Tanggung jawab yang semakin besar
            Karena tanggung jawab di kemudian hari berasal dari tanggung jawab yang dialami di permulaan, tidak mengherankan bahwa konsepsi-konsepsi asli tetap bernilai, sekalipun perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung sangat berbeda dengan yang diharapkan.
Pada tahap ini tanggung jawab kita hanya menyangkut pengetahuan yang sebaik mungkin tentang kekuatan-kekuatan, potensi-potensi, dan struktur-struktur bersangkutan, karena pengetahuan itu merupakan prasyarat untuk dapat menguasai kekuatan-kekuatan tersebut. Dan sejak tampaknya sebagai kemungkinan, penguasaan itu termasuk juga tanggung jawab manusia.

3.    Keinsafan etis dan kewajiban etis
            Batas tanggung jawab manusia yaitu tahap natural dan kodrat manusia. Ia juga bertanggung jawab atas kenyataan bahwa ia memikul tanggung jawab. Ia tidak menciptakan tanggung jawab, tetapi membacanya. Membacanya bagaimana? Di sini satu-satunya jawaban adalah: ia membaca tanggung jawabnya pada kodratnya sebagai manusia, artinya sebagai makhluk dimana – sejauh mungkin – meterialitas tunduk pada roh. Sejauh mungkin, kami katakan, karena, kalau mustahil tentu tidak ada tanggung jawab, sebab itu tidak ada kewajiban etis. Tetapi yang menarik ialah – dan itu sangat penting bagi tema kita di sini – bahwa keinsafan etis manusia selalu lebih luas jangkauannya daripada yang dirasakannya sebagai kewajiban etis. Kewajiban etis selalu menyadari adanya ketegangan  antara yang seharusnya ada dengan kenyataan yang ada.

4.    Lingkaran setan yang menandai etika
            Pada dasarnya lingkaran setan yang dimaksud artinya adanya pertautan antara filsafat yang berusaha menjawab pertanyaan siapa dan apa manusia itu dan etika yang berusaha menterjemahkan jawaban itu ke dalam suatu sikap hidup dan praksis dimana manusia sungguh-sungguh menjadi siapa dan apa adanya.

5.    Masalah prioritas
a.    Ilmu pengetahuan murni versus ilmu pengetahuan terapan
Masalah prioritas sudah mulai dengan pertanyaan apa yang harus diutamakan, ilmu pengetahuan murni atau ilmu pengetahuan terapan? Walaupun kita mudah cenderung mementingkan kebutuhan-kebutuhan konkrit dalam menentukan prioritas namun sering kali ilmu pengetahuan murni membawa kita pada pemecahan-pemecahan yang jauh melebihi penelitian yang berorientasi praktis.


b.    Ilmu alam versus ilmu manusia
Ilmu pengetahuan jenis mana yang lebuh penting, Ilmu alam atau ilmu manusia . Bila pentingnya ilmu-ilmu manusia – karena alasan obyeknya – dijunjung lebih tinggi daripada ilmu-ilmu alam atau juga karena alasan-alasan yang berasal dari praksis orang menganggap urgensi ilmu-ilmu manusia lebih besar, maka masih tetap benar bahwa belum tentu suatu kebijaksanaan dalam bidang ilmu pengetahuan harus memprioritaskan ilmu manusia lebih dari ilmu alam.

c.    Ilmu-ilmu refleksif versus ilmu-ilmu nonrefleksif
Pertanyaan mengenai prioritas antara ilmu positif ( ilmu- ilmu manusia, ilmu-ilmu  alam ) di satu pihak dan ilmu reflektif ( filsafat, etika ) di pihak lain.
Ada alasan untuk memberi prioritas kepada ilmu refleksi supaya mendapat peluang untuk mengejar keterbelakangannya.



Bab V
BEBAS NILAI DALAM ILMU PENGETAHUAN

1.    Duduknya persoalan
            Dengan “bebas nilai” kita maksudkan suatu tuntutan yang diajukan kepada setiap kegiatan ilmiah atas dasar hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ilmu pengetahuan bebas dari setiap perandaian. Tuntutan ini tidak mungkin mungkin mutlak, karena jika demikian akan meniadakan dirinya sendiri.
Ketika kita menyelidiki perandaian-perandaian, ilmu penetahuan diedakan menjadi ua prinsip yaitu prinsip konstitutif dan prinsip yang menyangkut isi. Suatu ilmu merasa diri otonom , sekalipun ia tidak mendasari perandaian-perandaian sendiri,  tetapi mengambilnya dari suatu pengalaman lebih luas daripada bidang ilmiahnya yang spesifik.

2.    Kebebasan ilmu pengetahuan
            Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh membiarkan diri terpengaruh oleh nilai-nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan dapat diungkapkan pula dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas. Kebebasan untuk memilih selalu tinggal suatu faktor hakiki dalam kebebasan ilmu pengetahuan. Tetapi kebebasan untuk memilih bukan factor terpenting, bukan hal yang mutlak perlu untuk dapat menjalankan penentuan diri. Lagi pula, juga dalam situasi-situasi yang krang ideal pilihan selalu akan ditujukan – kendati berdasarkan alasan-alasan yang sepenuhnya tidak dimengerti – pada dugaan bahwa teori atau terapi yang dipilih paling mendekati kebenaran atau efektivitas.

3.    Kegiatan ilmiah dan nilai etisnya
            Ilmu pengetahuan, yang tidak pernah bebas nilai sebab ia sendiri mengejawantahkan suatu nilai etis, bertambah relevansi etisnya karena semakin erat kaitannya dengan praksis.

4.    Bebas nilai dan obyektivitas
            Ilmu-ilmu pengetahuan sangat menekankan pada sifat bebas nilai dari ilmu pengetahuan. Namun hal ini akan menimbulkan kesulitan-kesulitan. Salah satunya adalah kesulitan pada ilmu-ilmu manusia yaitu secara khusus manusia terlibat dalam ilmu-ilmu itu, sebagai subyek maupun sebagai obyek.

5.    Beberapa distingsi mengenai nilai-nilai
            Suatu distingsi yang penting dalam masalah bebas nilai ilmu pengetahuan adalah distingsi antara pertimbangan nilai yang memerikan dan pertimbangan nilai mengevaluasi.
Ilmu pengetahuan itu bebas nilai, Ilmu pengetahuan sedapat mungkin t
Npa prasangka apapun.



6.    Praksis dan implikasi etisnya
            Praktek ilmu manusia tidak pernah bisa bebas nilai sama sekali.  Ilmu-ilmu manusia boleh dan harus memanfaatkan sistem-sistem sosial yang berbeda-beda bagi analisis teoritis mereka, tetapi itu lain daripada sengaja bereksperimentasi dengan sistem-sistem yang dianggap kurang baik. Seorang ahli polemologi harus mempelajari sebab musabab fenomen “perang” dengan menyelidki perang-perang konkrit yang berlangsung di masa lampau dan sekarang. Tetapi sedapat mungkin ia harus menggunakan pengetahuan yang sudah diperoleh untuk memajukan perdamaian duania. Dalam hal ini pertimbangan-pertimbangan nilai etis tidak dapat dihindarkan.

7.    Teori dan bebas nilai
            . Perlunya pertimbangan-pertimbangan nilai etis hanya didasarkan atas praksis yang menerapkan pengertian-pengertian teoritis. Sebab, sejak ilmu pengetahuan ditandai pertautan antara teori dan praksis, maka apa yang berlaku bagi praksis berlaku pula bagi teori, karena yang terakhir tidak dapat berkembang tanpa prasis.
 Ilmu manusia memandang manusia sebagaimana adanya  demi terwujudnya manusia sebagaimana seharusnya.

8.    Etika dan ilmu-ilmu manusia
            Hubungan antara ilmu dan etika begitu halus dan rumit, sehingga tidak mungkin diungkapkan dengan perbandingan antara bagian dan keseluruhan. Mau tidak mau ilmu-ilmu manusia harus menggunakan pertimbangan-pertimbangan nilai etis. Prinsip-prinsip etis harus digunakannya untuk menentukan apakah nilai-nilai lain bersifat baik atau tidak baik bagi manusia.


Bab VI
 TUJUAN-TUJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN PRAKSIS

1.    Pergeseran ke arah praksis
            Dalam konteks historis kita lihat terjadinya pergeseran: dari ilmu pengetahuan sebagai theoria, demi pengetahuan, menuju ilmu pengetahuan sebagai praxis, demi kegunaan bagi kehidupan. Memang benar, pergeseran itu telah berlangsung, tetapi tidak boleh ditafsirkan secara mutlak.

2.    Tujuan-tujuan praksis
            Praksis pertama-tama tertuju pada keperluan manusia untuk mempertahankan hidupnya dan pada keinginan untuk meningkatkan kemungkinan-kemungkinan yang disajikan hidup ini. ditinjau dari segi historis ada dua faktor yang sangat memperluas tujuan-tujuan “natural” ini. Pertama: ternyata ilmu pengetahuan bisa berguna untuk praksis dan menambah kemungkinan-kemungkinannya dengan cara tak terduga. Kedua: tradisi Yunani-Kristiani yang minta perhatian untuk sesama yang menderita, untuk manusia yang tidak berdaya dan juga tidak berhak atas bantuan, karena tidak sanggup menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat yang dapat menjadi dasar bagi haknya.

3.    Ketidakdewasaan manusia
            Kedewasaan manusia dapat kita ukur dengan tolok ukur intern. Seorang manusia dewasa harus dapat berbicara dengan pengetahuan matang tentang realitas, harus sanggup berbicara atas namanya sendiri, artinya ia harus mengenal dirinya sendiri serta motif-motifnya dan dengan demikian sungguh-sungguh bebas. Kalau dipandang demikian tidak ada orang yang betul-betul dewasa, pun tidak mereka yang secara tradisional disebut dewasa, termasuk juga elit di antara mereka.

4.    Etos intrinsik dari teknologi
            Dalam perspektif yang dilukiskan tentang tujuan praksis sebagai keseluruhan tampak sebagai pelayanan manusia kepada manusia, guna menciptakan bagi semua orang peluang seluas mungkin untuk mengembangkan dirinya sendiri. Nyatalah kiranya bahwa hal yang saman merupakan juga “etos” intrinsik dari teknologi. Menurut kodratnya sendiri teknologi bertujuan membebaskan manusia dari urusan-urusan materialnya dan dalam hal ini memang semakin berhasil.
            Manusia akan menggunakan teknologi pertama-tama untuk membantu mereka yang masih membutuhkan pertolongan. Tetapi sesudah itu manusia akan memakai teknologi dalam suatu perspektif jauh lebih luas yang dibuka oleh perkembangan kemungkinan-kemungkinan manusiawi, yaitu manusia akan mengejar suatu kedewasaan dalam arti yang sebenarnya, suatu keadaan di mana ia telah menjadi manusia seutuhnya.

5.    Ilmu pengetahuan sebagai tujuan
            Ilmu pengetahuan bukan saja sarana tetapi juga tujuan. Ilmu pengetahuan bukan saja sekedar sarana untuk mencapai perkembangan manusia yang lebih utuh. Ilmu pengetahuan merupakan juga sebagian dari perkembangan manusia itu. Ilmu pengetahuan merupakan juga hasil perkembangan manusia.

6.    Pergeseran-pergeseran dari keniscayaan ke kebebasan
 Tujuan-tujuan ilmu pengetahuan di satu pihak ditandai dengan sesuatu yang tidak terikat dengan waktu, tapi di pihak lain memperihatkan bermacam-macam pergeseran. Pada mulanya kegiatan ilmiah nampak sebagai “luks”. “Luks” karena kegiatan ilmiah itu dimungkinkan berkat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang telah terjamin, dan “luks” lagi, karena kegiatan ilmiah tidak menyumbangkan sesuatupun kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu. Kini kegiatan ilmiah mutlak perlu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari untuk mencapai taraf yang lebih tinggi, hal ini disebabkan karena pergeseran.

7.    Konsekuensi-kosekuensi untuk menentukan prioritas
            Karena ilmu pengetahuan bukan hanya sebagai sarana tetapi juga tujuan, dapat ditarik suatu kesimpulan penting tentang hal menentukan prioritas. Yang kami maksudkan di sini bukan prioritas di dalam wilayah ilmu pengetahuan – entah ilmu pengetahuan teoritis maupun praktis – melainkan prioritas yang harus diberikan kepada kegiatan ilmiah pada umumnya.
            Ilmu pengetahuan menurut hakekatnya dan strukturnya  sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat abstrak dan terspesialisasi , sedang realitas beserta problem-problemnya bersifat konkrit dan menerobos semua spesialisme.


Bab VII
KERJA SAMA ANTARA ILMU-ILMU

1.    Masa depan yang tidak diketahui
            Kita menyadari bahwa tanggung jawab ilmu pengetahuan untuk semua manusia. Dan kita juga harus berusaha sebaik mungkin melihat ke depan, walaupun kita tidak bisa memaksakan jalannya kejadian-kejadian yang akan datang. Dalam pada itu masa depan yang tidak dikenal itu sebetulnya cukup aneh sifatnya. Masa depan dikenal lebih baik dari masa lu, namun demikian dapat diartikan lain bahwa masa depan kurang dikenal dibanding masa lalu.
            Bagaimanapun juga kita dapat menaruh harapan, bila kita menyaksikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan telah memperlihatkan bagaimana hal-hal yang dulu nampaknya nyaris mustahil, kemudian mencapat pemecahannya juga.

2.    Perlunya mencarikan tendensi-tendensi
            Terdapat berbagai tendensi yang memberi harapan, betapa pun besarnya kesulitan-kesulitan actual. Tetapi sebetulnya bukan soal apakah tendensi-tendensi itu mengizinkan optimisme kita. Yang penting ialah mencarikan tendensi-tendensi yang diperlihatkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan melanjutkan tendensi-tendensi itu dengan sebaik mungkin.
            Salah satu di antara tendensi-tendensi ini ialah kerja sama antara ilmu-ilmu, supaya ilmu pengetahuan sugguh-sungguh dapat mencapai tujuannya.

3.    Kerja sama antara ilmu-ilmu teoritis dan ilmu-ilmu praktis
            Kerja sama ilmu- ilmu teoritis dengan ilmu-ilmu  praksis pertama-tama diperlukan untuk menguji teori-teori,  karena justru dalam praksis nilai khusus manusia tampak dengan lebih jelas daripada dalam teori. Tuntutan-tuntutan praksis tidak mneghambat tuntutan-tuntutan  teori. di bidang ilmu-ilmu manusia tuntutan-tuntutan teori pun meminta suatu pendkatan terpadu atau sekurang-kurangnya multidisipliner. Walaupun jarak antar teori dan praksis masih cukup besar, namun hal itu tidak disebabkan karena tuntutan-tuntutan yang berbeda-beda, melainkan ilmu-ilmu yang bersangkutan belum dewasa.


4.    Kerja sama antara filsafat, etika, dan ilmu-ilmu positif
            Besarnya implikasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi barangkali tampak paling jelas bila kita menginsafi arti perkembangan itu untuk filsafat dan etika. Perkembangan itu mempunyai arti khusus bagi filsafat, karena refleksi tentang apa yang dinyatakan ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai hakekat manusia sangat penting untuk menjawab pertanyaan manusia tentang dirinya sendiri dan tentang arti keberadaannya di dunia. Perkembangan itu mempunyai arti pula bagi etika, karena refleksi filosofis tidak pernah netral, tetapi mengundang kita untuk mengambil sebuah sikap hidup dan mewujudkan khidupan kita sesuai dengan apa yang dinyatakan sebagai hakeka manusia.
            Eratnya kerjasama   antara ilmu ilmu-ilmu positif dengan ilmu-ilmu reflektif  membutuhkan satu sama lain. Ilmu pengetahuan alam dan teknologi selama perkembangannya memperlihatkan banyak hal tentang hubungan manusia dengan alam yang mempunyai juga konsekuensi etis, sedangkan mereka sendiri tidak sanggup merumuskan pengertian-pengertian baru itu, karena metode-metode mereka tidak cocok untuk itu. Karena itu mereka membutuhkan filsafat dan etika tidak akan pernah sanggup mencapai visi-visi baru itu, seandainya tidak dikemukakan oleh perkembangan ilmu alam dan teknologi.

5.    Andil sejarah
            Tindakan-tindakan kita sekarang ini reaksi atas masa lampau berpadu dengan persiapan untuk masa depan yang tidak mungkin dan tidak boleh dibiarkan berkembang sendiri. Setidak-tidaknya kita sudah belajar bahwa tindakan-tindakan kita sekarang ini mengandung tanggung jawab besar untuk masa depan. Tidak boleh terjadi, kita tidak mempunyai pandangan jelas tentang humanitas (perikemanusiaan) yang sejati, karena perwujudan humanitas harus menentukan arah praksis.
            Dengan mempelajari sejarah kita dapat belajar juga bagaimana manusia berulang kali gagal, bagaimana maksud yang paling luhur sesudah beberapa waktu dirusakkan dan dalam usaha yang tidak jarang berujung sejarah.

6.    Andil ilmu-ilmu manusia
            Ilmu-ilmu manusia harus memperlihatkan bagaimana cita-cita etis kita dapat diopersionalkan, sehingga dapat diwujudkan secara efektif. Karena keikutsertaan ilmu-ilmu manusia dalam kerja sama antar ilmu-ilmu positif dan etika sangat diperlukan.
           

7.    Andil ilmu alam
            Andil ilmu alam dalam kerja sama ilmu-ilmu tidak begitu besar, terutama bila kerja sama itu dipandang dari segi sumbangan yang dapat diberikan masing-masing ilmu untuk pengenalan diri dan kebebasan batiniah manusia. Barangkali orang berpendapat, ilmu alam bertugas untuk mengenal alam dan dengan demikian mengabdi kepada kebebasan lahiriah manusia, artinya kebebasannya terhadap alam di sekitarnya. Karena itu tidak keberatan, bila pengetahuan serba spesialistis dari ilmu alam dan teknologi itu terbatas pada ahli saja.

8.    Beberapa kesimpulan
            Kesimpulan pertama: semua ilmu dibutuhkan, dan semua ilmu juga membutuhkan satu sama lain untuk dapat mencapai tujuan-tujuan umum.
            Kesimpulan kedua: dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan praksis jelas terlihat tendensi-tendensi yang menunjukkan bahwa hal-hal yang pada mulanya tampaknya hampir tidak mungkin, lambat laun ternyata mungkin juga.


Bab VIII
ILMU PENGETAHUAN DAN KEBIJAKSANAAN

1.    Ilmu pengetahuan dan pandangan hidup
            Masalah-masalah yang menyangkut pandangan hidup tidak dapat diragukan bahwa sekurang-kurangnya beberapa aspeknya dapat diselidiki secara ilmiah. Sejauh kita mengetahui lebih banyak factor-faktor yang menguasai tingkah laku manusia perorangan dan sosial, sejauh itu pula akan dapat kita mengerti lebih baik apa yang menguasai pilihan-pilihan mendasar kita di bidang pandangan hidup.

2.    Tanpa pamrih
             Sikap tanpa pamrih berarti membuka diri untuk kebenaran yang tidak berasal dari saya, juga dapat berarti mempertaruhkan diri saya.
            Tuntutan bahwa ilmu pengetahuan adalah tanpa pamrih, pasti tidak terbatas pada kegiatan ilmiah sejauh langsung berkaitan dengan masalah-masalah pandangan hidup .

3.    Kebijaksanaan
            Kegiatan ilmiah dalam bentuk yang dispesialisir meminta kebijaksaan yang tahu mengaitkan keinsafan akan keterbatasan metodenya sendiri dengan keinsafan yang tepat akan kedudukannya dalam keseluruhan.
            Cita-cita kebijaksanaan itu masih mempunyai suatu dimensi lain daripada hanya pengertian tentang keseluruhan. Bila kita berbicara tentang kebijaksanaan, yang kita maksudkan adalah hubungan timbal balik antara pengertian dan praksis etis yang sesuai

4.    Ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan keterlibatan dalam masyarakat
            Arti ilmu pengetahuan untuk cita-cita kebijaksanaan tampak di sini karena ilmu pengetahuan telah berkembang menjadi progresif dan relevan untuk praksis, maka mau tidak mau ada konsekuensinya untuk cita-cita kebijaksanaan itu sendiri, khususnya sejauh menyangkut sikap pasrah. Ilmu pengetahuan justru menjadi besar karena didasarkan pada pengalaman dan eksperimen, artinya karena diakuinya kekuatan fakta-fakta.
            Menerima realitas itu merupakan titik pangkal yang mengizinkan dan serentak juga mewajibkan kita untuk mengembangkan kemungkinan-kemungkinan dalam realitas yang sesuai dengan hidup manusia yang lebih sempurna.
            Kemajuan minta agar ilmu pengetahuan diikutsertakan dalam kehidupan sosial, agar ilmu pengetahuan digunakan demi kesejahteraan semua manusia. Sejak ilmu pengetahuan dapat dimanfaatkan dalam praksis, keterlibatan dalam masyarakat yang bertujuan mengubah realitas social, dapat dianggap  sebagai perwujudan konkrit dari unsure etis yang selalau sudah manandai kebijaksanaan sebagai kesatuan antara teori dan praksis.

KESIMPULAN

Bermula dari rasa tidak puas terhadap ilmu pengetahuan. Di satu pihak ilmu pengetahuan menyajikan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa, di pihak lain ilmu pengetahuan merasa gagal. Mengapa ilmu pengetahuan dikatakan gagal, karena ilmu pengetahuan salah mengenai kemungkinan – kemungkinan yang sesungguhnya.
            Karena kemajuan ilmiah, manusia memperoleh kekuasaan, yang semakin betambah atas realitas. Tetapi tanggung jawabnya semakin bertambah pula. Bagaimana manusia harus bertanggung jawab dengan penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah akan menanyakan tujuan-tujuan bagi pelaksanaan kuasa manusia, menyangkut ilmu-ilmu lain yang memungkinkan kuasa itu sendiri .
            Satu pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman  dengan ilmu pengetahuan: banyak hal yang pada mulanya tidak mungkin, ternyata akhirnya mungkin juga, karena ada manusia yang tak jenuh-jenuh  mencoba- coba yang semula tidak mungkin, karena mereka melihatnya sebagai tantangan.
Ada sejumlah pikiran dasar yang berguna tentang hakekat ilmu pengetahuan , bentuk-bentuknya, kemungkinan-kemungkinan, serta batas-batasnya makna ilmu pengetahuan  bagi manusia dan masyarakat dan tanggung jawabnya.